Minggu, 25 Januari 2015

RESENSI BUKU


RESENSI BUKU PERTAMA



      
        Judul buku                      :  Azwar anas teladan dari minang
        Penulis                            :  Abrar yusra
        Penerbit                          :  Kompas
        Cetakan                          :  Agustus 2011
        Tebal                              ;  213 halaman


PENULIS

Abrar Yusra (lahir di Agam, Sumatera Barat, 28 Maret 1943; umur 71 tahun) adalah seorang wartawan dan penulis biografi Indonesia. Abrar Yusra telah menulis banyak buku biografi para tokoh Indonesia, diantaranya biografi Selo Soemardjan, Azwar Anas, Amir Hamzah, A.A. Navis serta biografi Hoegeng yang dia tulis bersama Ramadhan K.H. dan biografi tokoh-tokoh Indonesia lainnya.
Sebelum menjadi penulis biografi, Abrar dikenal sebagai jurnalis. Ia pernah jadi managing editor selama 9 tahun di Harian Singgalang yang terbit di Padang, Sumatera Barat. Dia juga pernah menjadi guru di sekolah INS Kayutanam, Sumatera Barat, sebelum menjadi wartawan.

PENDAHULUAN

Buku azwar anas teladan dari minang ini bertujuan untuk generasi muda minang supaya terlecut motivasinya sebagai generasi penerus bangsa,meskipun harus membrontak sekalipun. Pada dasarnya buku ini memang bertujuan untuk jangan sampai negri ini dikuasai oleh negara lain.

SINOPSIS

Tokoh senior nasional asal Minangkabau yang pernah disebut-sebut sebagai ”pemimpin terakhir di Sumatera Barat”. Hal ini karena karakter kepemimpinan yang amat lekat pada dirinya. Pemimpin adalah orang yang mampu mengurus dan memimpin masyarakat karena kepedulian murni untuk memajukan masyarakat. Dan, memang begitulah Azwar.
Bagi rakyat Sumatera Barat ia dikenang sebagai gubernur yang berani ”melawan” Soeharto, antara lain karena berani membatasi peredaran kupon lotre SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah). Sebagai Menko Kesra, ia tolak semua bantuan yang berasal dari dana SDSB. Tapi, kenapa ia bisa tetap dekat dengan Soeharto?

Di kalangan pencinta sepak bola Indonesia, Azwar dihormati dan dicintai. Saat menjadi Ketua PSSI ia tak ragu memecat seorang wasit seumur hidup gara-gara terbukti ikut membudayakan suap. Ia memilih mengundurkan diri sebagai Ketua Umum PSSI gara-gara peristiwa skandal ”sepak bola gajah” di Chiangmai, Thailand.

Sebagai anggota DPA (1998-2000) ia pun memilih mengundurkan diri karena tak dapat mengikuti pola pikir dan kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang kadang tiba-tiba berubah 180 derajat. Azwar bukan tipe pemimpin yang hanya bisa menuntut, tapi pemimpin yang juga konsisten memberi contoh mewujudkan nilai-nilai moral yang diyakini.

KELEBIHAN

1. Terdapat grafik yang memungkinkan pembaca dapat mengetahui survei yang sudah didapat.
2. Penjelasannya sangat rinci.
3. Terdapat indeks kata kata yang sulit dimenegrti.

KEKURANGAN

1. Beberapa kata yang sulit dimengerti tidak terdapat pada bagian indeks.
2. Bahasa yang digunakan sulit untuk dipahami.



RESENSI BUKU KEDUA

   
   Judul buku                         :  Pribadi hebat
   Penulis                               :  Buya Hamka
   Penerbit                             :  Gema insani
   Cetakan                             ;  Januari 2015
   Tebal Buku                        :  326

PENULIS

Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah bin Abdul Karim Amrullah bin Syeikh Muhammad Amrullah bin Tuanku Abdullah Saleh bin Tuanku Syeikh Pariaman atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, yakni singkatan namanya, (lahir di Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik.
Hamka lahir pada 17 Februari 1908 [Kalender Hijriyah: 13 Muharram 1362] di Minangkabau, Sumatera. Ia lahir sebagai anak pertama dari tujuh orang bersaudara dan dibesarkan dalam keluarga yang taat melaksanakan ajaran agama Islam. Ayahnya bernama Abdul Karim Amrullah, ulama pembaru Islam di Minangkabau yang akrab dipanggil dengan sebutan Haji Rasul, sementara ibunya, yakni Sitti Shafiyah, berasal dari keturunan seniman di Minangkabau. Adapun ayah dari Abdul Karim, kakek Hamka, yakni Muhammad Amrullah dikenal sebagai ulama pengikut Tarekat Naqsyabandiyah.

Sebelum mengenyam pendidikan di sekolah, Hamka tinggal bersama neneknya di sebuah rumah di dekat Danau Maninjau. Ketika berusia enam tahun, ia pindah bersama ayahnya ke Padang Panjang. Sebagaimana umumnya anak-anak laki-laki di Minangkabau, sewaktu kecil ia belajar mengaji dan tidur di surau yang berada di sekitar tempat ia tinggal, sebab anak laki-laki Minang memang tak punya tempat di rumah.[1] Di surau, ia belajar mengaji dan silek, sementara di luar itu, ia suka mendengarkan kaba, kisah-kisah yang dinyanyikan dengan alat-alat musik tradisional Minangkabau.[2] Pergaulannya dengan tukang-tukang kaba, memberikannya pengetahuan tentang seni bercerita dan mengolah kata-kata. Kelak melalui novel-novelnya, Hamka sering mencomot kosakata dan istilah-istilah Minangkabau. Seperti halnya sastrawan yang lahir di ranah Minang, pantun dan petatah-petitih menjadi bumbu dalam karya-karyanya.

PENDAHULUAN

Buku yang berjudul pribadi hebat ini menjelaskan tentang bagaimana menjaga sopan santun serta mengenali ilmu pengetahuan yang luas.

SINOPSIS

Bebanmu akan berat. Jiwamu harus kuat.Tetapi aku percaya langkahmu akan jaya. Kuatkan pribadimu!” BUYA HAMKA
Dengan apa kita membuat orang menjadi tertarik? Dengan budi yang tinggi, kesopanan, ilmu pengetahuan yang luas, kesanggupan menahan hatipada perkara yang belum disepakati, dengan kecerdasan, kecepatan menarik kesimpulan, kebagusan susunan kata, kepandaian menjaga perasaan orang, dan kesanggupan menenggang. Kumpulan sifat dan kelebihan itu menimbulkan daya tarik. Hal itu dapat dipelajari dengan pergaulan yang luas dan ada juga karena diwarisi. Pendidikan ibu, bapak, sekolah, teman sejawat, dan lingkungan masyarakat, semuanya itu adalah guru yang membentuk daya penarik. Kuatatau lemahnya.

Sepenggal paragraf tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak halyang dijelaskan oleh seorang Buya Hamka agar pribadi hebat muncul dalam diri kita. Ibarat membangun sebuah bangunan, salah satu bagian penting adalah kualitas batu bata yang digunakan. Batu bata berkualitas bagus akan membuatkuat bangunan yang didirikan. Begitulah satu per satu pribadi individu sepertibatu bata. Pribadi yang kuat akan mampu menguatkan diri dan memberikanpengaruh positif terhadap orang lain serta lingkungan sekitarnya, dan lebihjauh lagi kepada agama, bangsa, dan negaranya.

Buya Hamka telah memberikan banyak sekali pelajaran tentang caramenjadikan diri kita sebagai seorang pribadi yang kuat dan hebat. Semuauntaian kata-kata bijak penuh hikmah dari seorang ayah, guru, dan ulama besaryang dimiliki Indonesia tertuang jelas dalam Pribadi Hebat untuk kita dapat menguatkan dan menghebatkan diri.Selamat Membaca. Selamat Menghebatkan Pribadi Anda.

KELEBIHAN

1. Banyak pelajaran yang bisa di dapat
2. Setiap kata mempunyai makna yang sangat khas

KEKURANGAN

1. Beberapa kutipan sulit dimengerti
2. Uraian halaman kurang menarik


Tidak ada komentar:

Posting Komentar